KabarMagelang__Seekor domba jantan di Tidar Krajan Farm, Kota Magelang memiliki penampilan yang tidak biasa. Jika umumnya domba bertanduk empat, domba milik Handoko Hary Suharso ini justru memiliki lima tanduk.
Kelangkaan itu membuat Handoko mengembangkan keturunan dengan karakter tanduk istimewa.
Handoko menyebut, domba itu kini berusia sekitar 1,5 tahun dan mulai memasuki usia reproduktif. Kemampuan spermanya juga sudah dinilai cukup baik sehingga domba itu bakal dikawinkan dan menjadi bagian dari program pembiakan di peternakannya.
"Domba tanduk lima ini hasil peranakan sendiri. Hasil silangan pejantan tanduk empat dengan domba lokal," kata Handoko di kandang ternaknya, Senin (7/9).
Menurut dia, domba dengan lima tanduk tergolong jarang ditemukan. Namun tidak menutup kemungkinan ada peternak lain yang memiliki domba serupa. Akan tetapi, karakter lima tanduk yang tumbuh relatif presisi pada dombanya dinilai menjadi keunikan tersendiri.
Meski memiliki keistimewaan pada tanduk, Handoko mengakui, postur tubuh domba tersebut belum maksimal. Namun, dia lebih mempertimbangkan potensi genetiknya untuk pengembangbiakan.
"Untuk darahnya kuat. Selama ini kita persiapkan untuk pejantan. Diharapkan ke depannya bisa keluar tanduk-tanduk yang istimewa lain," ujarnya.
Keunikan tersebut membuat Handoko tidak sembarangan melepas domba lima tanduk itu. Beberapa orang disebut sempat menanyakan atau menawar, tetapi belum ada transaksi yang benar-benar serius.
Handoko bahkan memasang patokan harga satu dinar emas, yang ia sebut setara sekitar 4,2 gram emas atau kurang lebih Rp 12 juta. Harga tersebut bukan semata-mata didasarkan pada ukuran atau bobot domba, tetapi karena kelangkaan karakter tanduknya.
"Karena tingkat kelangkaannya, kita kasih harga satu dinar. Sekitar Rp 12 juta," bebernya.
Meski ada yang menawar, Handoko memilih tidak terburu-buru menjualnya. Lantaran kehilangan domba tersebut berarti kehilangan salah satu aset genetik yang belum tentu bisa muncul kembali dalam waktu dekat.
"Ini (domba tanduk lima) satu-satunya dari kita. Kalau lepas ya sudah. Jadi biar di domba prima saja," terangnya.
Menariknya, lanjut dia, keunikan fisik tersebut tidak membuat domba lima tanduk mendapatkan perlakuan khusus dalam hal pakan maupun perawatan. Handoko justru memperlakukannya sama seperti domba lain di peternakannya.
Pakan utama berupa rumput atau hijauan. Untuk menambah nutrisi, domba juga mendapatkan sedikit pakan penguat.
Handoko juga memanfaatkan sejumlah bahan dari aktivitas industri di sekitar, termasuk air manyon dari pabrik tempe serta kulit atau limbah produksi tempe yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan.
"Pakannya sesederhana mungkin. Kita rumput sama ada pakan penguat sedikit," sebutnya. (Rez).

Tidak ada komentar: