Header ads

Header ads
Kembangkan Bisnis Kamu dengan Iklan di Kabar Magelang
» » ​Usaha Kerajinan Bambu Omah Pring Borobudur Tembus Pasar Bali hingga Singapura

Borobudur, kabarMagelang__Pengelola usaha kerajinan bambu Omah Pring, Heri Sutrisno, terus mengembangkan produk kerajinan bambunya hingga menembus pasar luar daerah dan mancanegara. 

Kerajinan bambu omah Pring yang berada di Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur ini awalnya hanya produksi sendok makan kayu dan bambu. 

Namun Omah Pring kini memproduksi beragam jenis kerajinan, dengan kap lampu gantung sebagai produk paling diminati (best seller).

​Heri mengungkapkan, kap lampu gantung bambu garapannya ditawarkan dalam berbagai ukuran dan harga.

"Untuk ukuran berdiameter 30 cm: Rp100.000, dan ​diameter 40 cm: Rp135.000, kemudian diameter 50 cm: Rp200.000," jelasnya, saat ditemui di omah Pring, Jumat (4/9/2026).

​Selain ukuran standar, Omah Pring juga melayani pesanan khusus (custom). Salah satu pesanan terbesar yang pernah dikerjakan adalah kap lampu berdiameter 1,2 meter sebanyak 5 buah untuk pembeli di Bali dengan harga Rp1.200.000 per unit.

​"Awalnya kami berangkat dari membuat sendok. Pesanan sendok pernah mencapai 3.000 set dengan kapasitas produksi sekitar 1.000 set per bulan. Namun, saat ini kap lampu menjadi produk yang paling banyak diminati," ujar Heri.

​Dia menyebut dalam proses pengerjaannya, Omah Pring mengandalkan bahan baku bambu lokal yang dibeli dalam bentuk iratan dari warga sekitar seharga Rp15.000 per kilogram. Setiap satu unit kap lampu diameter 30 cm membutuhkan sekitar 3 hingga 4 ons iratan bambu dengan lebar 1,5–2 cm dan panjang sekitar 2 meter. 

"Untuk proses pembuatan dari awal hingga jadi, dilakukan tiga orang pekerja dan mampu menghasilkan 5 sampai 6 unit kap lampu diameter 30 cm dalam sehari," kata Heri.

​Adapun proses pembuatannya, Heri menerapkan teknik coiling: yakni ​Iratan bambu dirangkai dan disambung-sambung.

Kemudian ​bambu dibentuk melingkar (coiling) sesuai ukuran permintaan, pembentukan model dilakukan secara manual menggunakan tangan.

Selanjutnya direkatkan menggunakan lem putih, kemudian didempul dan diamplas. Dan tahap akhir (finishing) dilakukan pelapisan awal, pendempulan ulang, pengamplasan halus, hingga pelapisan clear.

​Untuk menjaga ketahanan bambu dari serangan hama seperti bubuk dan totor, Omah Pring menerapkan teknik perendaman air garam selama setengah hari sebelum bambu dijemur dan dirangkai. 

"Metode alami ini dipadukan dengan kearifan lokal Jawa, yaitu memperhatikan waktu penebangan bambu pada mangsa kepitu, mangsa kesanga, atau setelah bulan purnama (tanggal tua Jawa) saat kadar air bambu berada di posisi terendah. Dengan teknik tersebut, produk kerajinan mampu bertahan hingga 7 sampai 8 tahun," terang Heri.

​Saat ini, pemasaran Omah Pring menjangkau wilayah Yogyakarta, Bali, hingga ekspor ke Singapura melalui pengiriman konsolidasi di Surabaya. Selain kap lampu dan sendok, Omah Pring juga memproduksi lebih dari 19 variasi produk lainnya, seperti cangkir, teko, mangkok, tempat lampu berdiri (stand lamp), hingga set meja dan kursi bambu. (Rez).

About kabarmagelang.com

Info terupdate seputar Kabar Magelang. Lejitkan dan Kembangan usaha Anda di Kabar Magelang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply