kabarMagelang__Sangha Theravada Indonesia (STI) kembali menggelar rangkaian kegiatan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) dan Peringatan Asalha Maha Puja 2568 BE/2024 di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Rangkaian acara nasional ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (24/7) hingga Minggu (26/72026).
Perhelatan tahun ini terasa makin istimewa karena bertepatan dengan peringatan 50 Tahun (Setengah Abad) Sangha Theravada Indonesia.
Pimpinan Sangha Theravada Indonesia, Bhante Sri Pannyavaro Maha Tera, menyampaikan bahwa perayaan emas setengah abad STI menjadikan ITC dan Asalha Maha Puja tahun ini lebih bermakna.
"Tahun ini bertepatan dengan 50 tahun—setengah abad Tahun Kencana—Sangha Theravada Indonesia. Hal ini membuat ITC dan Asalha Maha Puja menjadi sangat istimewa. Antusiasme umat sangat tinggi karena momen emas ini wajib kita peringati," ujar Bhante Sri Pannyavaro.
Ia menjelaskan, agenda di bulan Juli ini merupakan rangkaian kegiatan terbesar STI secara nasional. Sebanyak 2.045 peserta terdaftar secara resmi untuk membaca ayat-ayat suci (sutta-sutta) yang dipetik dari kitab suci Tipitaka.
Para peserta terdiri dari: Bhikkhu (dalam dan luar negeri), Samanera & Athasilani, dan Umat Buddha dari berbagai provinsi di Indonesia
"Sebenarnya pendaftar masih sangat banyak. Namun, kapasitas tempat dan tenda tidak memungkinkan untuk menampung lebih banyak peserta. Jumlah ini sudah maksimal," jelasnya.
Tidak Sekadar Membaca, tapi Memahami Dampak Ilmiah Selain pembacaan kitab suci Tipitaka, para peserta juga dibekali pemahaman dan uraian materi dari kitab Majjhima Nikaya (Sutta 71 hingga 80).
Penjelasan ini disajikan secara ringkas dan ilmiah oleh para narasumber Bhante yang kompeten serta berlatar belakang pendidikan agama Buddha dari perguruan tinggi luar negeri.
Harapannya, umat tidak hanya membaca dengan suasana hati yang bahagia, tetapi juga mengerti maknanya. Ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang belajar dan praktik Dhamma secara nyata," tambah Bhante Sri Pannyavaro.
Makna Kirab dan 4 Kereta SimbolisSebagai bagian dari tradisi, perayaan ini juga diwarnai dengan prosesi kirab yang berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Kirab ini diprediksi diikuti oleh lebih dari 10.000 hingga 12.000 umat.
Bhante menjelaskan bahwa kirab merupakan bentuk latihan menyucikan hati dan pikiran, seraya merenungkan keutamaan Sang Buddha. Dalam kirab tahun ini, terdapat 4 kereta simbolis, yakni Kereta 1: Membawa Tugu Asoka., Kereta 2: Membawa Kitab Suci Tipitaka., Kereta 3: Membawa Roda Dhamma (Dhammacakka) dan sepasang rusa, simbol pembabaran Dhamma pertama kali., dan Kereta 4: Kereta Maha Dhatu, membawa relik Sang Buddha yang selama ini disemayamkan di Vihara Mendut.
Apresiasi Kemenag: Menjaga Konsistensi dan TradisiPemerintah melalui Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama (Kemenag) RI Supriyadi. Dia menyampaikan Kemenag menggarisbawahi bahwa kegiatan ini bukan sekadar euforia melainkan tempat menggembleng diri. Sejak pagi hari, para peserta telah mengambil Atha Sila (8 ikrar moral) sebagai fondasi awal pelatihan spiritual.
Turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi STI dalam mengawal pembinaan umat Buddha di Indonesia.
"Membaca kitab suci adalah proses pembelajaran (pariyatti). Dengan memahami dan mempraktikkannya, kami berharap saat pulang ke rumah nanti, nilai-nilai Dhamma ini menjadi habit atau karakter bagi umat Buddha di Indonesia," tutupnya.
"Kami dari Dirjen Bimas Buddha mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Sangha Theravada Indonesia yang secara konsisten menyelenggarakan kegiatan ini. Ini adalah tugas mulia dalam menjaga dan melestarikan Buddha Dhamma di Indonesia," pungkas Supriyadi.(Rez).

Tidak ada komentar: