» » » Penderita Hidrosefalus Butuh Uluran Tangan


KABARMAGELANG.COM---Sofiyanti (28) terus mengelus-elus kepala Mulyasari Ramadhani, putri bungsunya yang baru berumur 1,7 tahun. Kepala sang buah hatinya tidak keras, melainkan gembur seperti telur matang yang pecah.Setiap saat bocah ini menangis merasakan sakit, terlebih ada dua luka yang sejak lahir tidak kunjung sembuh.

    Dengan penuh kasih, ibu muda ini meniup, mengelus kepala sang buah hati agar sakit yang diderita berkurang. Sebagai ibu,tentu ia sangat merasakan apa yang dirasakan putrinya. "Setiap malam ia selalu menangis dan saya harus selalu menjaga agar dia nyaman. Paling saya hanya bisa tidur selama satu jam setiap malamnya," kata Sofiyanti penuh ketegaran.
   
    Sofiyanti mengatakan, putri keduanya ini menderita Hedrosefalus (kepala air) sejak lahir. Tidak hanya itu, Mulya, panggilannya juga menderita bibir sumbing dan alergi dingin. Ia tidak bisa mengobatkan anaknya secara maksimal karena keterbatasan ekonomi. Dirinya tidak bekerja, bahkan suaminya juga harus berurusan dengan polisi karena ketahuan akan mencuri untuk memenuhi kebutuhan pengobatan anaknya.

    "Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Mau bagaimana lagi, saya juga tidak menyalahkan suami. Dia begitu karena mungkin sedang pusing memikirkan anaknya yang sakit seperti ini," katanya.

    Yang ia sayangkan justru kurang perhatiannya pemerintah terhadap penderitaan yang dialami. "Sudah seperti ini, kok ya jamkesmas tidak punya, jamkesda apalagi. Bahkan saat pembagian BLT pun saya juga tidak menerima. Kalau saya tanya pada orang-orang, jawabannya selalu tidak tahu," ujarnya.     
   
    Sofiyanti yang tinggal di Dusun Kalikalong Jurang (Krajan 1) RT 1 RW 03 Desa Gandusari, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, hanya bisa pasrah, dan terus berdoa agar ada orang yang peduli dengan keadaanya. Ia juga berharap suaminya segera di bebaskan karena ia belum mencuri. "Saya tidak bisa bekerja karena harus menunggu anak. Suami saya ditahanan sehingga praktis tidak ada pemasukan. Untuk menghidupi kebutuhan ya hanya gali lubang tutup lubang. Biasanya saya dan suami membantu membungkus permen asem dari tetangga. Tapi itu tidak setiap hari," paparnya.

    Ia kemudian menceritakan bagaimana dulu dilahirkan. Putri keduanya ini lahir pada 7 Juli 2013 di RS Budi Rahayu Kota Magelang dengan menggunakan jampersal melalui operasi Caesar. Selama kehamilan, tidak ada hal-hal aneh yang dia rasakan. semua berjalan normal seperti biasa. Ia juga rutin memeriksakan ke bidan desa maupun Puskesmas
Baru pada usia kehamilan memasuki bulan ke 7, kaki dan tangannya membengkak. "Kata bida itu biasa bagi orang hamil. Saya kemudian disarankan untuk USG. dari sana baru ketahuan kalau kepala anak yang saya kandung  membesar dan dinyatakan Hidrosefalus," katanya.

    Oleh bidan, sebenarnya sudah ada rujukan ke RS Budi Rahayu agar persalinan dilakukan dengan cara operasi caesar. Namun, ternyata tidak dilakukan. "Selama satu setengah hari di RS saya baru ditangani dan proses persalinan dilakukan secara normal. Namun tetap saja anak saya belum lahir.Oleh dokter kemudian di vakum, waktu itu yang menangani dokter perempuan. Tapi tetap saja tidak bisa keluar, bahkan kepala anak saya terkena kuku dari dokter yang menangani dan sampai saat ini lukanya belum sembuh. Setelah di vakum tidak bisa, baru dilakukan tindakan operasi," kata Sofiyanti dengan air mata menggenangi kedua bola matanya. Ia mengaku masih sangat merasakan kesakitan kala proses persalinan. "Bayangkan saja, bukaan tujuh kemudian di vakum setelah itu di operasi," imbuhnya.

    Mulya lahir dengan bobot 4,6 kilogram dengan diameter kepala 31 centimeter. Namun kemudian bobot Mulya  turun hingga 3,9 kilogram sedangkan lingkar kepalanya kini  mencapai 71 centimeter dan berat 10 kilogram. Kondisi Mulya semakin memprihatinkan karena ia tidak bisa minum air susu ibunya (ASI) sendiri lantaran bibirnya menderita bibir sumbing. Ia pun hanya bisa minum dan makan bubur instan dari produk tertentu. "saya co aganti yang lain perutnya tidak bisa menerima," kata Sofiyani.

    Mulya hanya bisa tergolek dengan kesakitan yang terus ia rasakan. Menurut Sofi, kepala anaknya tidak bisa di operasi lantaran cairan yang ada sudah menutupi otak. Hal itu sesuai hasil pemeriksaan dari dokter di RS Elizabeth Semarang. Beberapa waktu lalu ia semapat membawa anaknya ke rumah sakit ini melalu yayasan milik Anna Avantie.

    Kini, Sofiyanti hanya bisa pasrah dan berdoa serta berpikir positif, bahwa  semua ini merupakan jalan hidup yang harus ia jalani. Ditengah kesulitan hidupnya, ia terus menyemangati putri sulungnya Frida Putri lestari (8) agar terus sekolah dan belajar dengan giat. "Alhamdullilah, frida sangat sayang sama adiknya. Kalau saya sedang mencuci atau masak, dia yangmenjaga adiknya. Bahkan ia sering membantu mencuci pakaian adiknya," kata Sofiyanti.

    Ia juga mengaku bangga dengan Frida, karena di sekolah termasuk anak yang pintar dan mendapat ranking 5. Frida juga lebih suka menunggu adiknya di rumah dan mengaji daripada bermain. (tie)

ket gambar:
Sofiyanti bersama anaknya yang menderita Hidrosefalus (Kepala air) dan Frida (putri sulung), sangat membutuhkan bantuan orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.(foto: ch kurniawati)


About watik

KabarMagelang.com - Situs portal berita terudate di Kota Magelang.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply