Header ads

Header ads
Kembangkan Bisnis Kamu dengan Iklan di Kabar Magelang
» » Sembilan Anak Panti Asuhan di Borobudur Keracunan Usai Santap Nasi Goreng

KabarMagelang__Sebanyak sembilan anak penghuni Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur, Magelang, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi nasi goreng yang diolah dari makanan donasi. 

Para korban yang mayoritas berusia SMP hingga SMA itu dilarikan ke Rumah Sakit Aisyiyah (RSIA) Muntilan pada Senin (22/6/2026) sore untuk mendapatkan penanganan medis.

Ketua Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur, Yus Listiawan, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bermula dari makanan donasi yang diterima pada siang hari. Makanan berupa nasi, telur, dan bihun itu kemudian diolah kembali menjadi nasi goreng untuk santapan malam para penghuni panti yang sedang bertugas piket.

"Awalnya itu makanan donasi siang hari. Karena masih ada sisa, kemudian diolah kembali menjadi nasi goreng untuk makan malam. Yang mengonsumsi makanan tersebut ada 14 anak," kata Yus saat ditemui di lokasi.

Menurut Yus, gejala mulai muncul sejak Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Namun, para anak tidak langsung melaporkan kondisi yang dialami sehingga pengurus panti tidak mengetahui adanya keluhan kesehatan.

"Sejak pagi sebenarnya sudah ada yang mengalami diare, tetapi tidak ada laporan dari anak-anak. Baru siang hari mulai diketahui ada yang sakit dan kondisinya semakin terlihat," ujarnya.

Pihak panti sempat memberikan pertolongan pertama dengan meminta anak-anak memperbanyak minum untuk mencegah dehidrasi. Namun, kondisi beberapa anak terus memburuk hingga akhirnya salah satu korban mengalami halusinasi pada sore hari.

"Ketika sekitar pukul setengah empat sore ada yang mulai mengalami halusinasi, kami langsung memanggil ambulans dan membawa mereka ke Rumah Sakit Aisyiyah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," jelas Yus.

Dari total 14 anak yang mengonsumsi makanan tersebut, sembilan anak mengalami gejala cukup serius berupa muntah-muntah, diare, dan kondisi fisik yang melemah. Sementara lima anak lainnya tidak mengalami keluhan berarti atau hanya merasakan gejala ringan.

"Sembilan anak yang kondisinya mengkhawatirkan langsung dibawa ke rumah sakit. Ada beberapa anak lain yang ikut ke rumah sakit untuk membantu pendampingan dan sekaligus diperiksa," katanya.

Yus mengatakan hingga saat ini pihak panti masih menunggu hasil observasi tim medis terhadap seluruh anak yang menjalani pemeriksaan. Ia belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian tersebut karena tidak semua anak yang mengonsumsi makanan yang sama mengalami gejala serupa.

"Kalau penyebab pastinya kami belum bisa memastikan. Ini masih sebatas dugaan karena ada anak yang makan tetapi tidak mengalami masalah kesehatan. Selama ini kami juga belum pernah mengalami kejadian seperti ini," ungkapnya.

Pasca kejadian tersebut, pihak panti berencana meningkatkan edukasi kepada seluruh penghuni mengenai keamanan pangan dan langkah-langkah yang harus dilakukan apabila mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tertentu.

"Kami akan memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai cara mengelola makanan yang baik, apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi, serta bagaimana langkah pertama yang harus dilakukan jika mengalami keluhan kesehatan," tutur Yus.

Salah satu penghuni panti yang ikut mengonsumsi makanan tersebut, Ayunda Setia Dewi (14), menceritakan bahwa nasi goreng yang dimakan bersama teman-temannya dibuat dari sisa makanan donasi siang hari.

"Makanannya nasi siang yang kemudian diolah lagi menjadi nasi goreng. Ada campuran bihun juga dari makanan siang. Kami makan bersama-sama malam hari, lalu pagi harinya banyak teman yang mengalami diare dan muntah-muntah," kata Ayunda.

Ia mengaku tidak menyadari adanya tanda-tanda makanan basi saat menyantap hidangan tersebut. Menurutnya, seluruh anak makan bersama dan baru merasakan gejala pada keesokan harinya.

"Waktu makan tidak tahu kalau ada yang basi atau tidak. Kami makan biasa saja. Tapi mulai siang sampai sore banyak teman yang kondisinya semakin tidak kuat," ujarnya.

Diketahui, Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur memiliki 36 anak asuh dengan total penghuni dan pendamping sekitar 48 orang. Saat kejadian, hanya 14 anak yang berada di panti dan mengonsumsi makanan tersebut karena sebagian penghuni lainnya sedang pulang atau menjalani aktivitas di luar panti.

Hingga Senin malam, seluruh korban masih menjalani observasi medis untuk memastikan kondisi kesehatan mereka dan mencegah kemungkinan komplikasi lebih lanjut akibat dugaan keracunan makanan tersebut. (Rez).

About kabarmagelang.com

Info terupdate seputar Kabar Magelang. Lejitkan dan Kembangan usaha Anda di Kabar Magelang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply