kabarMagelang__Komoditas kopi dari Kabupaten Magelang menunjukkan kualitas yang makin menjanjikan di pasar domestik maupun regional.
Berdasarkan hasil uji cita rasa (cupping test) terhadap sejumlah sampel, seluruh kopi Magelang berhasil mengantongi skor di atas 80, yang menandakan kategori kopi spesial (specialty coffee).
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang, Puji Lestari, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi modal penting untuk memperkuat posisi kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah sekaligus mendongkrak nilai jualnya di tingkat petani.
"Tidak ada yang nilainya di bawah 80. Untuk jenis arabika, nilai tertinggi diraih kopi Petung dari Kecamatan Windusari. Sedangkan untuk robusta, skor tertinggi justru diraih kopi Tanggulsari dari Kecamatan Tempuran," ujar Puji, Minggu (30/8/2026).
Puji menjelaskan, Kabupaten Magelang memiliki dua jenis kopi utama, yaitu arabika dan robusta, yang tumbuh subur menyesuaikan karakter topografi wilayah dari dataran rendah hingga kawasan pegunungan.
Perkebunan arabika berkembang di wilayah berketinggian di atas 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), seperti di lereng Gunung Sumbing (Kaliangkrik dan Windusari), Pakis, Grabag, Ngablak, Sawangan, Dukun, hingga Salaman.
Luas lahan arabika saat ini mencapai sekitar 1.075 hektare dengan rata-rata produktivitas 506,52 kilogram per hektare.
Sementara itu, varietas robusta memiliki sebaran yang lebih luas mencakup 17 kecamatan, antara lain Borobudur, Tempuran, Candimulyo, hingga Secang. Luas lahannya mencapai sekitar 2.300 hektare dengan rata-rata produktivitas sebesar 1.161 kilogram per hektare.
Guna memberikan nilai tambah (added value) yang lebih tinggi, Pemerintah Kabupaten Magelang kini tengah fokus mengembangkan Kopi Organik di Kecamatan Grabag dengan luas hamparan sekitar 306 hektare.
"Untuk pengembangan organik, kita memerlukan sertifikasi lahan. Hamparan perkebunan yang menyatu dan tidak terpisah-pisah berada di Grabag, sehingga sangat potensial untuk memenuhi standar sertifikasi," tutur Puji.
Selain mendorong standardisasi mutu, Distanpangan juga menggandeng komunitas lokal dan petani untuk memperkuat ekosistem kopi dari hulu ke hilir.
Salah satu agenda strategis yang disiapkan adalah gelaran festival dan tradisi budaya Ruwat-Rawat Kopi di Banjarsari, Grabag, pada 4–6 September mendatang.
Terkait volume produksi tahun ini, Puji mengakui adanya estimasi penurunan akibat faktor cuaca.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penurunan produksi tahunan merupakan bagian dari siklus alami tanaman kopi dan tidak mencerminkan penurunan prospek bisnis secara keseluruhan.
"Musim kemarau saat ini, jika tidak terjadi anomali cuaca yang ekstrem, justru memicu fase pembungaan yang sangat baik pada tanaman. Kita optimistis tahun depan berpotensi memasuki masa panen raya," pungkasnya.(Rez).

Tidak ada komentar: