» » 300-an Perupa Semarakkan MAE 2015





www.kabarmagelang.com LUSA, Kota Magelang berumur 11 abad lebih. Dua hari lagi, tepatnya pada Sabtu, 11 April, ‘Kota Gethuk’ yang kini berjuluk ‘Kota Sejuta Bunga’ itu berulang tahun ke-1109. Dan, upacara perayaannya akan digelar di halaman Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang mulai pukul 07.30 WIB. Pada waktu dan tempat yang sama, Walikota Magelang Ir. Sigit Widyonindito, MT pun akan mengumumkan secara resmi pembukaan pergelaran seni rupa bertaraf internasional ‘Magelang Arts Event (MAE) 2015’, yang kali ini bertajuk ‘Ayo! MAE 2015’.
Penggunaan kata ‘Ayo!’ pada logo MAE 2015, diadopsi dari nama program ‘Ayo ke Magelang!’ yang dicanangkan Pemkot Magelang akhir tahun lalu. Selama setahun penuh pada 2015, sejak 1 Januari hingga 31 Desember mendatang, sebanyak 100 events seni-budaya akan digelar di berbagai tempat di kawasan kota sejuk yang memiliki Gunung Tidar itu.
MAE 2015 yang tahun ini dihelat di 11 ruang seni di Kota Magelang, Mungkid, dan Borobudur Kabupaten Magelang pun diselenggarakan untuk mendukung agenda ‘Ayo ke Magelang!’. Selama tiga bulan sejak 11 April hingga 11 Juli mendatang, MAE memamerkan ratusan karya seni rupa buah karya 300-an seniman Tanah Air serta sejumlah perupa kondang dunia dari China dan Jepang.
Sebelas ruang seni yang menggelar pameran tersebut yakni OHD Museum, Syang Art Space, dan Langgeng Gallery di Kota Magelang. Kemudian, Museum H. Widayat di Mungkid. Serta, Pawon Art Space, Galeri Pondok Tingal, Limanjawi Art House, Banyu Bening The House of Painting, Padepokan Apel Watoe, Tuksongo Visual Arts House, dan Amanjiwo Art Room yang seluruhnya berada di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Kali ini, OHD Museum yang berlokasi di Jl. Jenggolo 14, selain menampilkan puluhan koleksi dr. Oei Hong Djien (OHD) berupa lukisan, patung, seni instalasi, dan lain-lain karya 68 perupa Indonesia hingga 15 Mei nanti, sejak 5 Juni hingga 1 Agustus 2015 pun akan memamerkan karya-karya mutakhir garapan 13 perupa dari tiga negara. Yakni tiga seniman kontemporer tersohor dari China Ai Weiwei, Xia Xing, dan Zhao Zhao. Lalu, tiga seniman terkemuka Jepang Makoto Aida, Yamamoto Ryuki, Kondoh Akino. Dan, tujuh perupa avant gardeIndonesia Heri Dono, I Made Wianta, Entang Wiharso, I Made Djirna, Nasirun, Indieguerillas, serta Angki Purbandono.
“Meski tak bisa hadir di Magelang, karena dicegah keluar dari China, Ai Weiwei akan mengirimkan karya mutakhirnya berupa video art untuk dipamerkan di OHD Museum,” ujar dr. OHD di museum miliknya, kemarin.
Ai Weiwei, lanjut salah satu penggagas MAE itu, adalah aktivis HAM dan seniman kontemporer China yang selalu mengkritik policy Pemerintah China. Sehingga dia pernah ditahan selama 81 hari, pada April hingga Juni 2011. Karya-karyanya membuat pemerintah di negaranya gerah.
“Baru-baru ini, Ai Weiwei meraih penghargaan Amnesty Internasional, sebuah lembaga yang sebelumnya juga memberikan penghargaan tertinggi untuk hak asasi manusia kepada perempuan muda asal Pakistan, Malala Yousafzai, mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, dan pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi.”
Penghargaan tadi, menurut OHD, recananya akan diserahkan pada upacara di Berlin pada 21 Mei 2015. “Tapi, tentu saja Ai Weiwei tak dapat menghadiri acara tersebut, karena ia di bawah pengawasan pemerintah dan tidak bisa meninggalkan China.”
“Karya-karya Ai Weiwei, telah banyak dikoleksi oleh museum-museum ternama di Eropa dan Amerika. Dan, setiap pergelaran karya-karyanya dalam pameran-pameran di berbagai negara di luar negerinya, selalu dibanjiri pengunjung.”
Sementara dari Negeri Sakura, lanjut OHD, seniman kondang Makoto Aida akan memamerkan sejumlah lukisan serta karya video art. Begitu pun Yamamoto Ryuki dan Kondoh Akino. “Pameran bertajuk‘Spectrum of Art Sensibilities’ ini terselenggara berkat kerjasama antara OHD Museum dengan galeri terkemuka Jepang, Mizuma Gallery,” terangnya.

Go International
OHD mengatakan, tujuan menampilkan karya-karya seniman China dan Jepang di museumnya kali ini adalah agar publik seni-rupa, khususnya para perupa Indonesia, mengenal dan melihat secara langsung, serta tahu akan prestasi karya-karya hebat para seniman asing tersebut.
“Jika ingin go international, kita jangan tertutup dengan seniman-seniman luar. Apalagi kini globalisasi tidak bisa dibendung,” katanya.
Pemilik Syang Art Space di kawasan Gladiool, Bayeman, L Ridwan Muljosudarmo mengatakan, pada 25 Mei hingga 30 Juni mendatang galerinya akan menampilkan karya-karya terbaru dari duo seniman Bali.
“Karya-karya seniman asal Pulau Dewata yang telah lama menetap di Magelang, Pande Ketut Taman, akan dipajang di lantai satu. Lalu, sejumlah karya Putu Sutawijaya yang telah belasan tahun tinggal di Yogya, akan di-display di lantai dua,” ujar Ridwan kemarin sore di galerinya yang berlantai dua itu.
Sedangkan Deddy Irianto pemilik Langgeng Gallery yang berlokasi tak jauh dari Syang Art Space menuturkan, pada MAE tahun ini akan menampilkan karya-karya seniman muda dengan konsep berkarya yang baru dan segar.
“Kami akan memamerkan karya-karya para perupa muda yang berdomisili di Pulau Jawa, terutama para seniman dari Bandung dan Yogya,” tuturnya.
Deddy menambahkan, pameran bertajuk “Neo Java” yang dikuratori oleh Rifky Effendy dan Rain Rosidi itu akan berlangsung pada 30 Mei hingga 9 Juli nanti.
Sementara itu, Museum H. Widayat yang berlokasi di Jl. Soekarno Hatta 32, Mungkid, Kabupaten Magelang, dalam pergelaran MAE ketiga ini telah membuka pameran sejak medio Maret lalu. Pameran dalam rangka 20 tahun Museum H. Widayat (MHW) yang akan berlangsung sampai 30 Juni mendatang itu mengusung juluk “Revitalisasi”. Ada sekitar 40-an seniman muda dari Yogyakarta turut berpartisipasi dalam pameran akbar ini.
“Pameran seni rupa yang dikuratori oleh Rain Rosidi tersebut, menampilkan karya-karya para seniman muda, bertema pembacaan kembali karya H. Widayat,” ujar Direktur MHW Fajar Purnomo Sidhi alias Pungki, minggu lalu, di Mungkid.
Hampir sama dengan MHW, dua ruang seni yang lokasinya tak jauh dari Candi Pawon pun, kali ini memajang sejumlah lukisan karya para seniman Yogyakarta. Jika Pawon Art Space menampilkan sejumlah karya para seniman muda lulusan ISI Yogyakarta yang tergabung dalam Kelompok ArtRisen, maka Limanjawi Art House menampilkan karya-karya para perupa senior yang sebagian besar juga lulusan ISI Yogya.
“Dalam pameran ‘satu angkatan’ ini, kami mengusung tema “Resound”. Maksudnya, kami ingin memperdengarkan kembali spirit untuk bangkit bersama dalam wujud karya,” ungkap pemilik Pawon Art Space, Cipto Purnomo, saat acara pembukaan pameran tersebut, 5 April 2015.
Sedangkan pemilik Limanjawi Art House, Umar Chusaeni mengatakan, alasan pemilihan tajuk“Character” untuk pergelaran pameran di galerinya karena menurutnya setiap seniman memiliki kekhasan masing-masing.
“Dalam berkarya, menurut saya, setiap perupa pasti memiliki karakter sendiri-sendiri. Baik secara teknis, ideologis, maupun tematis yang dijadikan landasan atau menjadi konsep dalam berkarya. Saya yakin, dengan kekuatan dan karakter masing-masing, setiap karya akan menemukan ‘jodoh’ dan apresiatornya sendiri-sendiri,” katanya.
Dalam pameran yang akan digelar mulai 25 April hingga 25 Mei itu, masing-masing peserta diminta menampilkan tiga karya. Mereka adalah Budi Ubrux, Dyan Anggraini, Hadi Susanto, Heri Kris, Klowor Waldiyono, F. Sigit Santoso, dan Wara Anindiyah.

Seniman Gasebo
Galeri Pondok Tingal yang terletak di kompleks Hotel Pondok Tingal, Borobudur, dalam MAE 2015 ini akan memamerkan puluhan lukisan karya 21 seniman yang tergabung dalam Gabungan Seni Borobudur (Gasebo), dengan pilihan tajuk pameran “Gasebo: Lelakune Kanthi Laku”. Menurut salah satu panitia pameran, Hatmojo, event yang akan berlangsung selama sebulan penuh ini acara peresmian pembukaannya akan digelar pada Sabtu, 18 April 2015, pukul 19.00.
Sedangkan Banyu Bening The House of Painting milik seniman asli Borobudur, Suitbertus Sarwoko, selama MAE 2015 berlangsung akan menggelar pameran lukisan sebanyak dua kali. Pertama, akan dihelat pada 18 April hingga 10 Mei, dengan pilihan judul pameran “The High Art Never Lies”. Dan, kedua, akan digelar mulai 24 Mei sampai dengan 14 Juni 2015, dengan tajuk “Reunion ISI ‘89”.
Sekitar 1,5 kilometer sebelum Hotel Amanjiwo, atau sekitar 600 meter di sebelah selatan Candi Borobudur, dua ruang seni di Jl. Randu Alas, Dusun Seganan, Tuksongo akan menggelar pameran secara bersamaan. Selama dua bulan penuh, sejak 27 Mei hingga 27 Juli mendatang, Tuksongo Visual Arts House dan studio seni Padepokan Apel Watoe milik perupa Deddy PAW itu akan menampilkan karya-karya seni rupa gubahan para seniman Borobudur, Magelang, Yogyakarta, serta dari Bali.
Menurut Deddy, pameran di Tuksongo Visual Arts House akan diikuti 11 seniman, dengan mengusung tajuk “Milestone”. Perhelatan seni rupa yang akan diulas di katalog pameran oleh kurator independen Argus FS ini memamerkan karya-karya penting yang merupakan tonggak bersejarah atau ‘batu peringatan’ bagi para senimannya.
Sedangkan di Padepokan Apel Watoe, Deddy PAW akan berpameran tunggal. Di studio barunya ini, perupa yang dikenal karena sejak 12 tahun lalu hingga kini masih ‘setia’, intens, dan konsisten mengeksplorasi buah apel ke dalam karya-karyanya itu memilih juluk pameran “Good Teaching Legacies”. Dan, kali ini, pengamat seni rupa serta kurator papan atas Eddy Soetriyono akan menulis mengenai karya-karya mutakhir Deddy di katalog pameran ‘Perupa Apel Wae’ itu.
Seperti dalam penyelenggaraan MAE tahun-tahun lalu, ruang seni yang lokasinya terujung selatan adalah Amanjiwo Art Room. Ruang pamer yang berada di resort mewah di kaki Bukit Menoreh di kawasan Majaksingi, Borobudur itu akan menampilkan karya-karya seni rupa dari lima local artists yang tinggal di bilangan Borobudur. Dengan mengangkat tema “Love, Life, and Happiness”, M Aidi Yupri, Nugroho, Sodick Ardhany, Sujono Keron, serta Wawan Geni akan memulai berpameran sejak 1 Juni hingga 5 Juli mendatang. [***MAE2015]

About KabarMagelang

KabarMagelang.com - Situs portal berita terudate di Kota Magelang.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply