KabarMagelang__Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Magelang menggelar Konferensi VIII di Pondok Pesantren Darussalam Timur, Watucongol, Muntilan, Minggu (15/2/2026).
Dalam pidato pembukaannya, Ketua PC Fatayat NU Magelang periode 2020-2025, Evi Hikmah Nurchayati mengungkapkan bahwa awal masa khidmahnya langsung diuji oleh krisis global.
"Tahun 2020 setelah pandemi, kami bergerak cepat melakukan edukasi pencegahan Covid-19 serta memberikan bantuan bagi warga kurang mampu yang terdampak," kenangnya.
Evi memaparkan bahwa sinergi dengan pihak swasta juga menjadi pilar penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat desa.
"Kami bekerja sama dengan PT BNS untuk melakukan renovasi dan perbaikan gedung Posyandu di Desa Ketunggeng, Kecamatan Dukun, yang pengerjaannya langsung dipantau sesuai standar mereka," jelasnya mengenai penguatan infrastruktur kesehatan.
Di sektor ekonomi, Fatayat berupaya memutus rantai pengangguran melalui jalur vokasi bagi perempuan di akar rumput.
"Kami telah bekerjasama dengan Kemenaker untuk mengadakan pelatihan tenaga mandiri melalui bidang usaha olahan bahan makanan bagi kader-kader kami," tutur Evi terkait peningkatan ekonomi keluarga.
Isu krusial mengenai pernikahan dini juga tak luput dari perhatian melalui pendekatan riset yang akademis.
"Terkait perkawinan anak, kami menggandeng Disdukcapil dan Kemenag Kabupaten Magelang untuk meneliti faktor pendukung serta dampaknya, yang kini hasilnya sudah kami terbitkan di sebuah jurnal ilmiah," paparnya bangga.
Langkah preventif pun diperluas hingga ke institusi pendidikan formal guna memberikan pemahaman yang komprehensif kepada remaja.
"Kami melaksanakan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi di 71 SMP negeri dan swasta di Kabupaten Magelang dengan menggandeng Universitas Indonesia dan BP Fatayat NU," tegas Evi.
Salah satu prestasi emas yang dilaporkan adalah keberhasilan program penanganan stunting yang diakui di level nasional.
"Program 'Tilek Simbok' yang kami inisiasi menjadi best practice di tingkat Provinsi Jawa Tengah dan kemarin kami diundang audiensi langsung oleh Kementerian Kesehatan," ungkapnya di hadapan ratusan peserta.
Program ini, menurut Evi, merupakan integrasi dari instruksi pimpinan di tingkat wilayah yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
"Ini juga menyambung program Pimpinan Wilayah yakni 'Sambang Bocah' dan 'Sambang Simbok', di mana kami juga aktif berperan dalam praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak atau PMBA," tambahnya.
Penguatan ideologi kader juga terus dipupuk melalui "Madrasah Fatayat" guna mencetak kader yang melek isu sosial.
"Di tahun 2023, kami bekerja sama dengan Rahimah mengadakan pelatihan dua kali untuk mewujudkan kader yang militan, berwawasan gender, dan siap berkiprah nyata di tengah masyarakat," kata Evi.
Sebagai bentuk dokumentasi sejarah perjuangan, Fatayat Magelang juga mengabadikan langkah mereka dalam bentuk literasi.
"Kami menghasilkan buku berjudul Seribu Satu Kenangan Indah Fatayat yang berisi proses perjuangan kader-kader dalam memperjuangkan organisasi ini dari masa ke masa," ceritanya.
Menjelang akhir masa jabatan, pendidikan politik dan perlindungan hukum menjadi prioritas utama organisasi.
"Kami mengadakan pendidikan politik bekerjasama dengan KPU dan Bawaslu, serta mengoptimalkan lembaga kami untuk pencegahan dan penanganan kasus kekerasan pada perempuan dan anak," jelas Evi .
Evi juga menyampaikan di akhir masa kepengursan menggelar manasik haji masal
“Terakhir, di bulan Desember kemarin, kami mengadakan manasik haji dan umrah di TMAJT yang dihadiri sekitar 5.000 anggota Fatayat,” ujarnya menutup laporan masa khidmah.
Apresiasi tinggi datang dari Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, Hj. Tazkiyyatul Muthmainnah, yang memuji totalitas pengurus Magelang.
"Tenaga, pikiran, bahkan finansial mungkin sudah 'kelong', tapi hasilnya luar biasa, maka mari beri aplaus untuk Sahabat Evi atas capaian-capaian programnya," ajak perempuan yang akrab disapa Mbak Iin tersebut.
Mbak Iin mengategorikan Fatayat Kabupaten Magelang sebagai salah satu cabang terbaik di Jawa Tengah.
"Alhamdulillah, Magelang masuk kategori unggul karena struktur organisasinya sudah sangat settle, rantingnya komplit 300 lebih ditambah bonus anak ranting yang luar biasa," puji Mbak Iin.
Ia pun berpesan agar pengurus ke depan tidak hanya bersemangat di awal namun kehilangan konsistensi di tengah jalan.
"Ayo tunjukkan bahwa Fatayat NU bisa bekerja dengan baik, jangan sampai nanti 'nglokro' setelah pelatihan, karena kepercayaan dari dinas-dinas itu nomor satu," tegasnya.
Wakil Bupati Magelang, H. Sahid, turut hadir memberikan wejangan spiritual mengenai hakikat pengabdian yang tulus.
"Saya pernah diberi amanah oleh seorang kiai agar selalu menjaga kebersihan makam kedua orang tua sebagai bentuk bakti, karena dunia ini bukan tujuan utama kita mencari kebahagiaan," ucapnya lirih.
Wabup mengingatkan para kader bahwa jabatan dan kesuksesan duniawi hanyalah titipan sementara.
"Amanah menjadi Wakil Bupati ini hanya faktor keberuntungan, kuncinya adalah restu orang tua, maka belajarlah untuk berbagi meski sedikit demi ketenangan batin," pesan H. Sahid.
Ia pun meyakini bahwa keikhlasan dalam berorganisasi akan menjauhkan diri dari penyakit hati.
"Dengan membuka pintu kebaikan dan restu orang tua, insya Allah tidak akan ada rasa iri dengki dan kita tidak pernah takut besok mau jadi apa karena Allah sudah tahu jalan kita," tambahnya.
Sementara itu, Ning Nawal Nur Arafah memberikan catatan kritis terkait rapor pembangunan gender di Kabupaten Magelang.
"Indeks Pembangunan Gender Magelang tahun 2024 berada di angka 71,99 persen atau peringkat 25 di Jateng, ini menjadi tantangan bagi pengurus baru," ungkap istri mantan Wagub Jateng tersebut.
Ning Nawal juga menyoroti data memprihatinkan mengenai angka kekerasan yang masih sangat tinggi di wilayah tersebut.
"Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Magelang merupakan tertinggi nomor dua se-Jawa Tengah setelah Kota Semarang, ini harus menjadi fokus prioritas program ke depan," tegasnya.
Ia meminta Fatayat memiliki landasan spiritual yang kuat dalam menghadapi persoalan sosial tersebut.
"Secara organisasi kita harus memiliki kurikulum keimanan yang 'Siddiqo' atau jujur, seperti Sayyidah Maryam yang pasrah sepenuhnya kepada kehendak Allah tanpa beban," tutur Ning Nawal.
Menutup arahannya, Ning Nawal mengajak kader Fatayat untuk menjadi agen perubahan yang berani.
"Perempuan itu harus menjadi 'Wahdasibah' yang mau berjuang amar ma'ruf nahi munkar, memiliki prinsip dalam pergerakan, dan jangan hanya sekadar ikut-ikutan tanpa arah," pungkasnya. (Rez).

Tidak ada komentar: