KabarMagelang__Puluhan Biksu peserta Indonesia Walk for Peace (Thudong) 2026 akhirnya sampai di Borobudur, Magelang, setelah menempuh perjalanan spiritual kurang lebih 660 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur untuk mengikuti perayaan Waisak 2570 Buddhist Era Tahun 2026.
Kedatangan para Biksu tersebut disambut masyarakat yang memadati di sepanjang jalur menuju Borobudur, Kamis (28/5/2026) sore.
Perjalanan damai bertajuk “Indonesia Walk for Peace 2026” tersebut menjadi salah satu rangkaian paling menyita perhatian menjelang Hari Raya Waisak tahun ini.
Para biksu berjalan kaki melintasi Bali, Jawa Timur, Jogjakarta hingga Jawa Tengah sambil membawa pesan perdamaian, kesederhanaan, dan welas asih.
Sebelum tiba di Candi Borobudur, Sebanyak 57 biksu tiba di Kelenteng Hok An Kiong, Muntilan, Magelang, pada Rabu (27/5/2026) kemarin sore setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir tiga pekan.
Kedatangan mereka disambut taburan bunga mawar dan antusiasme warga yang telah menunggu sejak siang hari.
Perjalanan para Biksu ini, dilanjutkan pada Kamis pagi menuju Vihara Griya Vipasana Avalokitesvara (GVA).
Dan sebelum melanjutkan perjalananya ke Candi Borobudur, mereka menyempatkan diri untuk singgah Rumah Dinas Bupati Magelang.
Sesampai di rumah dinas Bupati mereka disambut jajaran Forkopimda dan Kepala OPD sebagai bentuk penghargaan perjuangan para Biksu Thudong.
Ketua Indonesia Walk for Peace 2026 Koordinator Wilayah Jawa Tengah–DIY, Adhiviryo Alex Fernando, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh 57 Bikhu sangha dari empat negara, yakni Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia.
Ia menjelaskan, perjalanan damai ini dimulai dari Provinsi Bali dan akan berakhir di Candi Agung Borobudur dengan membawa misi perdamaian dunia serta memperkuat nilai toleransi antarumat beragama.
“Indonesia Walk for Peace 2026 membawa semangat kedamaian dan persaudaraan bagi seluruh masyarakat. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Magelang, TNI, Polri, dan seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini,” ungkapnya.
Ketua Nasional Indonesia Walk for Peace 2026, Tosin, menjelaskan perjalanan para Biksu akan berakhir di Candi Borobudur sebagai simbol spiritual utama perayaan Waisak di Indonesia.
“Itu sebagai spirit atau tujuan mereka melakukan perjalanan mulai dari Bali, hasil akhirnya memang ada di Candi Borobudur,” jelas Tosin.
Selama berada di Magelang, para biksu dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda spiritual menjelang Waisak, termasuk doa bersama, meditasi, hingga ritual naik ke puncak Candi Borobudur. Setelah prosesi tersebut, para biksu beristirahat di Pusdiklat Catra Jinadhammo Borobudur untuk mempersiapkan rangkaian puncak Tri Suci Waisak.
Perjalanan para biksu tahun ini juga menjadi simbol kuat toleransi dan persaudaraan lintas umat di Indonesia. Sambutan hangat masyarakat Magelang menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan mampu melampaui perbedaan agama maupun budaya.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan apresiasi dan penghormatan atas perjalanan spiritual para bhikkhu yang menempuh ribuan kilometer menuju Candi Borobudur dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE/2026.
“Atas nama pribadi, Pemerintah Kabupaten Magelang, dan seluruh masyarakat Kabupaten Magelang, saya mengucapkan selamat datang di Kabupaten Magelang, bumi Borobudur yang penuh kedamaian dan toleransi,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan spiritual yang dilakukan para bhikkhu tidak hanya menjadi perjalanan fisik semata, tetapi juga membawa pesan universal tentang cinta kasih, persaudaraan, serta perdamaian lintas agama dan bangsa.
“Setiap langkah yang ditempuh para bhikkhu merupakan simbol perdamaian, persatuan, dan cinta kasih universal yang melintasi batas ruang, waktu, ras, maupun agama,” kata Grengseng.
Grengseng menegaskan bahwa Kabupaten Magelang sejak lama tumbuh di atas fondasi keberagaman, harmoni, dan semangat toleransi antarumat beragama.
Keberadaan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia menjadi simbol kehidupan masyarakat yang damai dan saling menghormati sejak ratusan tahun silam.
“Kabupaten Magelang adalah rumah bersama bagi seluruh keberagaman. Nilai toleransi dan persaudaraan terus kami jaga sebagai kekuatan untuk membangun masyarakat yang damai, maju, dan sejahtera,” pungkas Grengseng. (Rez).

Tidak ada komentar: