kabarMagelang__Ribuan warga dari berbagai daerah berduyun-duyun memadati Dusun Gunung Bakal, Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Magelang, Selasa (25/8/2026).
Masyarakat antusias mengikuti gelaran Gerebek Gunungan Lentheng dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sejak awal rangkaian acara, kawasan Masjid Baiturrohim Gunung Bakal telah dipenuhi pengunjung. Masyarakat yang hadir tidak hanya berasal dari desa-desa sekitar, tetapi juga berdatangan dari luar Kabupaten Magelang.
Tradisi yang diyakini telah berlangsung ratusan tahun ini bukan sekadar ajang perebutan gunungan, melainkan menjadi ruang bertemunya tradisi, doa, dan keyakinan warga yang diwariskan lintas generasi.
Kepala Dusun Gunung Bakal, Ahmad Jadin, mengungkapkan bahwa tradisi ini diperkirakan mulai berkembang pada akhir abad ke-17 atau abad ke-18 dan berkaitan erat dengan dakwah Kiai Raden Sayid Abdullah.
"Ada cerita turun-temurun yang menyebut bahwa tradisi itu sudah ada sebelum masa Perang Diponegoro," ujar Jadin.
Pada masa tersebut, kehidupan keagamaan warga Gunung Bakal belum begitu kuat. Kiai Raden Sayid Abdullah kemudian memanfaatkan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal sebagai sarana dakwah untuk mempererat kehidupan religius masyarakat melalui perayaan Gunungan Lentheng.
Berbeda dari gunungan Jawa pada umumnya yang berisikan hasil bumi atau nasi, gunungan di Dusun Gunung Bakal menggunakan bahan utama lentheng—makanan olahan dari beras ketan. Proses pembuatannya memakan waktu hingga tiga hari.
Beras ketan terlebih dahulu direbus, lalu ditumbuk (dideplok) hingga menjadi adonan. Adonan tersebut diletakkan di atas daun pisang dan dijemur selama sehari. Setelah dilepas dari daun pisang, adonan kembali dijemur sehari sebelum akhirnya digoreng. Lentheng yang sudah matang kemudian ditusuk dengan lidi aren dan disusun membentuk gunungan.
Setiap keluarga di Gunung Bakal secara turun-temurun membuat lentheng untuk dibawa ke masjid. Rata-rata setiap keluarga mengolah sekitar 20 hingga 30 kilogram beras ketan
Kepala Desa Sumberarum, Muhzen Fanani, menjelaskan bahwa asal-usul pasti dan usia tradisi ini masih terus diteliti oleh pihak terkait, termasuk kaitannya dengan sejarah Mataram dan masa sebelum Perang Diponegoro.
Meski demikian, penuturan sesepuh menguatkan bahwa tradisi ini telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan tercatat hanya pernah absen satu kali pada masa pendudukan Jepang.
Seiring bertambahnya jumlah pengunjung, tata cara prosesi pun mengalami penyesuaian demi keamanan dan ketertiban.
"Kalau dulu satu orang bisa mengitari area gunungan lebih dari tiga kali sambil membaca selawat. Sekarang karena keramaiannya cukup padat, dari panitia dibatasi tiga kali putaran," jelas Muhzen.(Rez).

Tidak ada komentar: