Header ads

Header ads
Kembangkan Bisnis Kamu dengan Iklan di Kabar Magelang
» » Murid Aniaya Guru Kesiswaan hingga Bersimbah Darah di Magelang, Pihak Sekolah dan PGRI Buka Suara


Kajoran, KabarMagelang__Polisi berhasil mengamankan seorang remaja berinisial D terkait kasus penganiayaan berat terhadap seorang guru perempuan, Enjang, di rumah korban yang berlokasi di Desa Sambak. Pelaku diketahui merupakan murid korban di sekolah tempatnya mengajar.

​Sebelum insiden terjadi, korban menyimpan kecurigaan lantaran kerap mendengar suara langkah kaki di luar rumahnya pada dini hari saat melaksanakan salat malam selama dua bulan terakhir. Namun, korban enggan memeriksa ke luar karena hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang sedang sakit.

​Peristiwa penganiayaan terjadi di luar jam sekolah pada dini hari. Setelah sadar dari pingsan, korban yang bersimbah darah merangkak menuju kamar ayahnya.

​"Setelah kejadian, adik saya segera menghampiri Bapak. Bahkan sempat muntah darah di kamar Bapak. Bapak yang sedang dalam kondisi stroke saat itu hanya bisa menangis," ujar Nastiti, kakak korban Rabu (30/9/2026).

​Kepala Sekolah tempat korban mengajar, Eni Nurhitah Asfianti, menuturkan bahwa Enjang dikenal sebagai sosok pendidik yang bijaksana dan berdedikasi tinggi. Sebagai pengampu bagian kesiswaan, korban bahkan sering memberikan perhatian ekstra kepada pelaku yang diketahui berasal dari keluarga broken home.

​"Bu Enjang tidak pernah membentak atau marah kasar. Jika menegur anak didik, beliau selalu menggunakan tutur kata yang halus. Beliau bahkan pernah berbagi bekal makanan karena pelaku tidak membawa bekal ke sekolah," kata Eni.

​Eni memohon maaf kepada publik atas terjadinya insiden ini. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah secara rutin melakukan pembinaan karakter, namun efektivitasnya sangat bergantung pada lingkungan keluarga dan masyarakat.

​"Jam kontrol sekolah terbatas dari pagi hingga setelah salat Zuhur. Peristiwa ini terjadi di luar jam sekolah, sehingga pengawasan berada di bawah tanggung jawab keluarga. Kami mengajak para orang tua untuk mempererat kerja sama dalam mendidik anak," imbuhnya.

​Menanggapi kasus tersebut, Ketua PGRI Cabang Kecamatan Kajoran, Muhammad Ainur Rofiq, menegaskan bahwa potensi kejadian serupa dapat terjadi di sekolah manapun karena pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk keluarga dan lingkungan pergaulan.

​Rofiq menambahkan bahwa sekolah swasta di pedesaan sering berada dalam posisi dilematis karena terbatasnya jumlah calon siswa dan aturan zonasi, sehingga harus menerima seluruh pendaftar, termasuk murid yang memiliki masalah perilaku.

​"Kehadiran siswa dengan masalah perilaku berpotensi mengganggu kenyamanan belajar dan meningkatkan beban psikologis guru. Namun, sekolah wajib memberikan hak pendidikan tanpa diskriminasi. Kasus ini harus diproses hukum secara tuntas sesuai aturan yang berlaku agar memberikan efek jera dan menjamin ruang aman bagi guru," tegas Rofiq.

​Sementara itu, pengamat dan praktisi pendidikan Patria Jati Kusuma, S.Psi., M.Psi., mengimbau masyarakat agar bijak dan tidak menyudutkan pihak sekolah.

​"Sekolah adalah lembaga formal yang dibatasi ruang dan waktu. Peristiwa kriminal ini terjadi pada dini hari di luar lingkungan sekolah, sehingga tanggung jawab dan pembinaan moral sepenuhnya berada di tangan keluarga," ujar Patria.(Rez).

About kabarmagelang.com

Info terupdate seputar Kabar Magelang. Lejitkan dan Kembangan usaha Anda di Kabar Magelang
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply