» » Rencana Pemerintah Naikan Harga Rokok Membuat Petani Tembakau Borobudur Gerah

BOROBUDUR,KABARMAGELANG.com__Wacana pemerintah menaikkan harga rokok membuat petani tembakau khawatir. Jika wacana tersebut terealisasi maka semua petani tembakau  akan merugi. Selain itu akan banyak orang kecil yang biasa bekerja sebagai buruh di pengolahan tembakau akan kehilangan penghasilan.

Salah satu petani tembakau Yamudi (48), warga lereng bukit Menoreh tepatnya  di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, mengatakan jika harga rokok benar naik hingga Rp 50.000 per bungkus maka daya beli masyarakat akan menurun. Akibatnya permintaan tembakau dari pabrik dipastikan ikut menurun.

"Kalau disuruh memilih, saya tidak setuju (harga rokok naik) termasuk petani yang lain, pasti  petani tembakau juga tidak setuju,” katanya saat di temui,  Selasa (23/8).

Dia mengungkapkan bahwa saat ini omzet penjualan tembakau rajangan kering sudah menurun akibat anomali cuaca. Pabrik-pabrik rokok besar hanya membeli tembakau dari petani hanya 30 persen dari tahun lalu.

"Penjualan turun sampai 70 persen. Saya hanya menanam 2 hektar saja, padahal tahun lalu bisa menanam 10-15 hektar tanaman tembakau, dari lahan kontrakan, sementara jika harga rokok naik, tidak bisa dipastikan akan diikuti kenaikan harga tembakau," aku Yamudi. 

Dia menilai  selama ini usaha pertanian tembakau telah menopang perekonomian mayoritas penduduk di Desa Tuksongo. Hampir semua penduduk di kawasan wisata Candi Borobudur ini memiliki mata pencaharian tembakau. Sealin itu juga menyerap tenaga kerja hingga ratusan orang di Desa Tuksongo saja.

"Bagi pabrik-pabrik besar mungkin tidak masalah tapi bagi kami para petani dan buruh tentu akan terpuruk," ujar Yamudi.

Dia  berharap kepada pemerintah agar melakukan kajian yang lebih dalam sebelum memutuskan kebijakan. Sehingga kebijakan itu memberikan dampak positif bagi semua pihak, terutama rakyat kecil.

"Kalau (harga) naik Rp 1.000 - Rp 2.000 sih wajar, tapi kalau naik terlalu drastis ya kami yang dirugikan," ucapnya.

Sementara itu, Juhartono Binarto, pengelola pabrik rokok lokal "Rokok Djeruk" Kota Magelang, tidak menampik akan ada dampak negatif jika pemerintah mengesahkan wacana kenaikan rokok hingga 200 persen.  Dipastikan akan ada pengurangan karyawan hingga pemasaran produk.

"Kalau harga naik, kemungkinan pemasaran dan produksinya akan berkurang. Dampak psikologisnya, karyawan mungkin saja bisa dikurangi,” tandas Hartono.(zis)




About azis dwi

KabarMagelang.com - Situs portal berita terudate di Kota Magelang.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply