» » 20 Menit 60 Perempuan Lereng Menoreh Hasilkan 1438 Gerabah

BOROBUDUR, KABARMAGELANG.com__Dalam rangka Festival Gerabah dan Peringatan Hari Santri Nasional 2016/1.438 H,  sebanyak 60 perempuan di lereng perbukitan Menoreh  3,5 km barat daya Candi Borobudur  tepatnya Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur,   membuat kerajinan gerabah sebanyak 1.438,  dimana jumlah tersebut sesuai dengan tahun 1.438 H. Ribuan kerajinan gerabah berbagai jenis dan bentuk tersebut diselesaikan dalam waktu 20 menit.

Ketua Perajin Bina Karya Dusun Klipoh, Supoyo mengatakan, di dusunnya ada sekitar  80 perempuan yang beraktifitas keseharianya membuat kerajinan gerabah, yang pada tahun 2004 lalu pernah mendapat modal dari pemerintah.

"Gerabah hasil kelompok kami  meliputi cobek, asbak, vase bunga, kendil, patung, miniatur candi dan lain sebagainya. Mulai harga  termurah Rp1000 hingga termahal Rp1,5 juta,” jelasnya.

Dia mengungkapkan hasil gerabah di Dusunya sudah banyak di kenal baik oleh wisatawan lokal maupun manca negara. Bahkan pihaknya memberikan paket wisata bagi pelajar, umum maupun turis untuk praktek langsung membuat kerajinan gerabah. Dimana untuk paket pelajar Rp15.000,  untuk tiga paket yakni  praktik, putar,  dan pewarnaan. Sedangkan untuk  turis Rp15.000 hanya untuk  satu paket.

“Untuk paket praktik membuat, kami bekerja sama dengan para perajin yang ada,” jelas Supoyo.

Kepala Desa Karanganyar, Muhammad Catur Windarmoko mengatakan, Desa Karanganyar, sedikit demi sedikit mengupayakan agar semakin dikenal dan maju dalam bidang pariwisata. Sejauh ini, sudah banyak para turis yang berkunjung melihat dan praktik membuat gerabah.

“Semoga festival ini tergugah untuk mendukung kepariwisataan, baik  dukungan dari Pemkab dan stekholder lainya," ucapnya.

Festival Gerabah dan Peringatan Hari Santri Nasional 2016 ini juga di meriahkan oleh  Ngatawi Al-Zastrow bersama Ki Ageng Ganjur. Dalam kesempatan tersebut, Zastrow mengatakan, di Indonesia bisa hidup rukun dengan orang yang beragama lain. Dia meminta agar masyarakat yang beragama Islam tinggal di sekitar Candi Borobudur, untuk ikut merawat dan menjaga keberadaan candi. Mengingat keberadaan candi tersebut, juga telah memberikan rezeki bagi yang berjualan maupun warga yang berada di sekitarnya.

“Bisa dibayangkan Borobudur jadi jendela Nusantara. Untuk itu, dijaga, dirawat dan menjadi tuan rumah yang baik.  Umat Islam berkewajiban memuliakan tamu tanpa memandang perbedaan agama maupun kepercayaan,” tegasnya.(zis)

About azis dwi

KabarMagelang.com - Situs portal berita terudate di Kota Magelang.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply