kabarMagelang__Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan melanda Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Jumlah korban terdampak diduga akibat mengonsumsi es campur kini melonjak hingga menyentuh angka 140 orang dan berpotensi terus bertambah.
Peristiwa ini bermula dari pesanan sekitar 300 porsi es campur untuk konsumsi rapat para guru pada Selasa siang. Es buah yang berisi campuran nangka, melon, kelapa muda (degan), dan bahan lainnya tersebut tidak hanya dikonsumsi di lokasi rapat, tetapi juga dibawa pulang oleh para peserta untuk dinikmati bersama keluarga.
Kasat Reskrim Polresta Magelang, Kompol La Ode Arwansyah, mengonfirmasi bahwa laporan keracunan pertama kali diterima dari Puskesmas Kajoran sekitar pukul 10.00 WIB. Tim Identifikasi dan Pamapta Polresta Magelang langsung diturunkan ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
"Fakta yang kami dapat, keracunan diduga disebabkan minuman sejenis es campur terdiri dari nangka, melon, degan, dan lain-lain. Sampel minuman sudah diamankan bersama pihak Puskesmas untuk diuji di Labkesda Magelang," ujar La Ode usai olah TKP.
La Ode menjelaskan, efek keracunan dari es campur tersebut tidak dirasakan secara langsung oleh para korban, melainkan membutuhkan waktu inkubasi sekitar 8 hingga 10 jam.
"Karena dikonsumsi siang hari, efeknya baru muncul pada tengah malam atau subuh. Hal ini menyebabkan para korban baru berdatangan ke Puskesmas dan rumah sakit pada pagi harinya," jelasnya.
Ia menambahkan, potensi jumlah korban masih bisa membengkak mengingat dari 300 porsi es yang dipesan, sebagian di antaranya dikonsumsi oleh lebih dari satu orang di lingkungan keluarga.
Saat ini, kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk pihak penjual es campur, guna memastikan apakah terdapat unsur kelalaian atau kesengajaan dalam kasus ini. Polisi juga menegaskan bahwa insiden keracunan ini tidak berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lonjakan jumlah pasien secara mendadak membuat Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah rumah sakit di Magelang mengalami kelebihan kapasitas (overload). Para korban rata-rata mengeluhkan gejala mual, pusing, demam tinggi, hingga diare.
Kepala Bidang Penunjang RSUD Merah Putih, drg. Rurit Obyantoro, mengungkapkan bahwa pihaknya mulai kebanjiran pasien suspek intoksikasi (keracunan) sejak pukul 11.00 WIB.
"Total hingga pukul 15.07 WIB ada 37 orang yang masuk, terdiri dari 12 anak-anak, 2 ibu hamil, dan 23 dewasa. Sebanyak 8 orang menjalani rawat inap, 29 dalam observasi, dan 1 orang diizinkan pulang," kata Rurit.
Akibat ruang IGD yang sudah overload, pihak RSUD Merah Putih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang untuk mendistribusikan rujukan pasien ke rumah sakit lain, seperti RSUD Muntilan dan RS Bukit Menoreh Salam.
Berdasarkan data terpisah hingga Rabu sore ini :
- RSUD Salaman: Menangani 15 pasien IGD (2 anak, 1 ibu hamil, 12 dewasa), dengan rincian 11 orang diproyeksikan rawat inap dan 4 orang rawat jalan.
- RSUD Muntilan: Menangani 7 pasien IGD (3 anak, 4 dewasa), dengan 5 orang diproyeksikan rawat inap dan 2 orang dalam observasi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang masih terus mendata perkembangan jumlah korban serta menunggu hasil penanganan medis dan laboratorium resmi.(Rez).

Tidak ada komentar: