kabarMagelang__Pemerintah Kabupaten Magelang menetapkan status darurat penanganan kasus dugaan keracunan massal yang melanda wilayah Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Hingga Rabu (14/10/2026) sore, total korban tercatat mencapai 167 orang, dengan 90 di antaranya harus menjalani perawatan intensif di tiga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Guna menangani lonjakan pasien, Pemkab Magelang mendirikan posko darurat 24 jam di Puskesmas Kajoran I dan II, serta mengerahkan seluruh RSUD di wilayah tersebut untuk siaga penuh. Seluruh penanganan medis bagi korban dipastikan gratis.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyatakan bahwa langkah cepat dan penetapan status darurat ini diambil agar penanggulangan medis dapat dilakukan secara maksimal di tingkat kabupaten.
"Kami membuat posko darurat di Puskesmas Kajoran I dan II untuk menangani masyarakat yang mengalami gejala diduga keracunan selama 24 jam. Seluruh rumah sakit umum daerah di Kabupaten Magelang juga siap melayani masyarakat yang diduga keracunan secara gratis," ujar Grengseng saat memberikan keterangan pers di RSUD Merah Putih bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang, dr. Lies Pramudiyanti, Rabu (14/10/2026).
Saat ini, 90 korban dirawat intensif tersebar di tiga fasilitas kesehatan utama, yakni RSUD Merah Putih, RSUD Muntilan, dan RSUD Menoreh. Sedangkan sebagian korban lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan rawat jalan.
Untuk mengantisipasi kedatangan pasien susulan dari desa-desa terdampak, pihak rumah sakit telah menyiapkan penataan tempat tidur tambahan.
"Namun, karena ini situasi darurat, kami mohon pengertian masyarakat apabila ada ketidaknyamanan atau fasilitas yang kurang karena peningkatan kapasitas ruang perawatan," tambah Grengseng.
Ia juga menegaskan, jika diperlukan tindakan medis lanjutan, Dinkes dan pihak RSUD siap mengambil langkah rujukan atau penanganan khusus.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Magelang, dr. Lies Pramudiyanti, mengungkapkan bahwa mayoritas pasien tiba di fasilitas kesehatan dengan keluhan dehidrasi akibat muntah dan diare.
Sebagai langkah penanganan sumber masalah, Dinkes telah menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi.
"Petugas mengambil sampel produk makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan serta sampel muntahan dari para pasien," ujarnya.
"Sampel sudah kami ambil dan besok pagi (Kamis) dikirim ke lab khusus keracunan di Yogyakarta untuk memastikan penyebab pasti keracunan ini," jelas dr. Lies.(Res).
Tidak ada komentar: